Notification

×

Iklan

Iklan

Indeks Berita

Tag Terpopuler

Laporan Investigasi Media Bongkar Sisi Gelap T1

Rabu, 29 Juli 2026 | Juli 29, 2026 WIB | 0 Views Last Updated 2026-07-29T07:45:21Z

MetaArenaNews — T1 baru saja mencatatkan laba pertama sepanjang sejarah organisasinya. Namun, sebuah investigasi yang dipublikasikan media Korea Selatan, Sports Seoul, pada 26 Juli 2026 — dan kemudian diulas ulang oleh Sheep Esports — menyebut bahwa pencapaian tersebut diduga datang dengan harga mahal: sebagian pendapatan disebut mengalir sebagai komisi ke sebuah agensi eksternal, sementara beban komersialnya justru jatuh ke pundak para pemain. Laporan itu juga mengungkap sejumlah dugaan masalah lain, mulai dari struktur sponsorship yang dipertanyakan hingga kekosongan kejelasan status kepemimpinan CEO Joe Marsh.

Agensi Eksternal di Balik Kontrak Sponsorship T1

Menurut laporan tersebut, hampir seluruh kontrak sponsorship T1 — organisasi esports terbesar di Korea Selatan — dilaporkan dikelola melalui sebuah agensi berbasis di Amerika Serikat yang dalam laporan itu disebut sebagai "Company A". Agensi ini disebut memiliki keterkaitan dengan CEO T1, Joe Marsh. Sports Seoul menyebut komisi standar yang diterima agensi tersebut berkisar antara 10 hingga 15 persen dari nilai kontrak, meski angka pastinya belum berhasil dikonfirmasi.

Yang lebih mengejutkan, sejumlah sumber internal yang diwawancarai media tersebut mengklaim bahwa kesepakatan sponsorship yang sebenarnya dinegosiasikan langsung oleh tim internal T1 tetap tercatat sebagai capaian agensi tersebut. Salah satu sumber juga menyebut bahwa T1 pernah menandatangani kontrak dengan sebuah merek global dengan nilai kurang dari separuh nilai kontrak serupa yang biasa didapatkan organisasi Eropa — sebuah kondisi yang disebut berkaitan langsung dengan peran agensi tersebut.

Beban Komersial di Pundak Pemain

Sumber yang sama menyebut bahwa nilai kontrak yang relatif rendah tersebut memaksa T1 untuk menjalin lebih banyak kerja sama sponsorship guna mengejar target komersial. Konsekuensinya, beban jadwal komersial itu jatuh ke pundak para pemain, terutama lima bintang divisi League of Legends milik T1. Berdasarkan catatan investigasi, sepanjang 2025 para pemain menghabiskan 102 hari untuk kegiatan komersial di luar jadwal kompetisi resmi mereka.

Sebagai gambaran, tak lama usai menjuarai World Championship 2025 di China, skuad T1 dilaporkan langsung terbang ke Jerman untuk mengikuti acara Red Bull League of Its Own pada 29 November, sebelum melanjutkan perjalanan ke Arab Saudi untuk pembuatan konten promosi bersama Red Sea Global. Rangkaian jadwal itu berlanjut dengan berbagai fan meeting, acara promosi luar negeri, dan seremoni penghargaan dengan waktu istirahat yang minim — meski di tengah kepadatan itu, T1 tetap berhasil menjuarai KeSPA Cup 2025 pada Desember.

Gelombang Resign di Tim Partnership

Ketidakpuasan atas kondisi tersebut disebut telah memicu gelombang pengunduran diri di internal T1. Menurut laporan, sekitar 75 persen staf yang bekerja di divisi partnership klub telah mengundurkan diri. Sports Seoul menyebut skala pasti komisi yang diterima agensi asal AS tersebut, maupun rincian lengkap kontrak kerja sama antara agensi dan T1, hingga kini masih belum bisa dikonfirmasi.

Kekosongan Kepemimpinan di Kursi CEO

Selain isu sponsorship, laporan lanjutan Sports Seoul yang terbit 27 Juli 2026 juga mengungkap bahwa T1 secara efektif berada dalam kondisi tanpa kepastian kepemimpinan sejak 30 Juni 2026. Masa jabatan awal Joe Marsh yang semestinya berakhir pada 7 Oktober 2025 dilaporkan telah diperpanjang beberapa kali secara bertahap, dengan tenggat perpanjangan terakhir jatuh pada 30 Juni 2026 — tanggal yang telah lewat tanpa ada pengumuman resmi soal penerus maupun perpanjangan kontrak Marsh.

Situasi ini disebut bersumber dari belum adanya kesepakatan antara dua pemegang saham utama T1, yakni SK Square dan perusahaan asal Amerika Serikat, Comcast, terkait proses penunjukan CEO baru. Menariknya, sebuah dokumen regulator dari SK Telecom yang dipublikasikan Mei 2026 sempat mencantumkan masa jabatan Joe Marsh berlaku hingga 30 Maret 2029 — seolah menunjukkan perpanjangan jangka panjang telah rampung. Namun menurut sumber internal SK Group, proses penunjukan CEO tersebut pada kenyataannya belum benar-benar dituntaskan.

SK Square sendiri tercatat sebagai pemegang saham mayoritas T1 dengan kepemilikan 53,13 persen, disusul Comcast dengan 34,3 persen. Sumber yang dikutip Sports Seoul menyebut SK Square sebenarnya mengetahui adanya keterkaitan antara Joe Marsh dan agensi asal AS tersebut, namun proses penunjukan CEO hingga kini belum juga dirampungkan.

Profit Pertama di Tengah Sorotan

Investigasi ini muncul tak lama setelah T1 mengumumkan hasil finansial yang mencatatkan laba pertama sepanjang sejarah organisasi pada awal 2026. Berdasarkan laporan keuangan konsolidasi, pendapatan T1 tercatat sekitar 90,57 miliar won Korea Selatan, tumbuh 77,7 persen dibanding tahun sebelumnya, dengan laba operasional 2,07 miliar won dan laba bersih 838 juta won.

Perlu dicatat, sejumlah poin dalam laporan Sports Seoul di atas — termasuk besaran komisi pasti agensi dan isi lengkap kontraknya dengan T1 — masih berstatus dugaan dan belum dikonfirmasi secara resmi oleh pihak T1.

Tetap kunjungi MetaArenaNews (https://www.metaarenanews.web.id/) untuk mendapatkan informasi esports dalam dan luar negeri lainnya.

×
Berita Terbaru Update